CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »
Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Sunday, August 10, 2008

Olimpiade 2008



Tanggal 8 Agustus 2008. Tidak sengaja mencari-cari channel dengan acara yang masuk akal di waktu-waktu premium. TVRI menayangkan opening ceremony acara empat tahunan itu. Walaupun sudah pada saat kontingen-kontingen tiap negara berbaris beriringan, which means sebentar lagi acara puncak akan mulai, tetapi saya cukup senang melihat konvoy tersebut. Yah, walaupun agak sedikit bingung dengan susunan abjad negara-negara yang muncul. Seorang wanita bermata sipit mengenakan baju semi-cheongsam diiringi oleh bendera masing-masing negara, para atlit yang melambai-lambaikan tangan dan tak luput dengan alat perekam momentum masing-masing. Ada bubuk warna-warni yang menandai langkah mereka. Berbagai macam atribut mewakili negara masing-masing. Yang dari timur tengah memakai baju panjang, yang dari eropa sebagian besar kepanasan. Kira-kira sesion perjalanan kontingen-kontingen memakan waktu sekitar dua jam. Mungkin lebih. Negara-negara mengirimkan wakil masing-masing. Sepanjang pengamatan-karena keseringan ganti channel- negara penyumbang atlit terbanyak Amerika Serikat dan yang tersedikit Timor Leste.
Dulu...Dulu..waktu masih jaman saya masih SD. Waktu Susi Susanti and the Gank sedang jaya-jayanya, olimpiade jadi acara wajib nonton. Apalagi bagian pembukaannya. Mungkin karena dulu cuma ada satu stasiun televisi, jadi saya tidak punya pilihan lain.
Olimpiade Athena betul-betul tidak tersentuh. Saya ingat, Taufik Hidayat, yang dapat emas di cabang andalan Indonesia, Bulutangkis, sempat sewot karena permainannya tidak terekspos ke negaranya sendiri. Saya juga tidak mendengar gaung-gaung Olimpiade empat tahun lalu. Padahal Olimpiade kembali ke daerah asalnya.
Empat tahun sebelumnya saya menikmati betul acara pembukaan pesta olahraga dan sportifitas dunia tersebut. Yang diselenggarakan di Sidney, Australia. Mungkin karena saya menontonnya dengan orang-orang yang sangat menanti-nanti peristiwa tersebut. Saya kemudian jadi mengenal Ian Thorpe, perenang asal Australia, dan Cathy Freeman, cabang atletik, yang keturunan Aborigin.
Anyway, moment penyalaan olympic flame selalu berbeda-beda. Semakin kesini sepertinya semakin extreme saja. Seperti yang di Bejing kemarin itu. Di tenga prote-protes anti-Pemerintah Cina, penyalaan api Olimpiade berjalan dengan sukses besar. Apalagi pake adegan berlari-lari di udara-seperti film Crouching Tiger,Hidden Dragon-, wihhh,,,,untung tidak lepas. Belum lagi setelah itu, kembang apinya keren sekali. Sepertinya di pasang di seluruh sudut Beijing...

Kira-kira berapa medali yang akan diboyong atlit-atlit kita di kesempatan kali ini ya?

Tuesday, March 11, 2008

Perempuan Menggugat Malam

Pementasan monolog ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 Maret. Nontonnya diajak Sultra, walaupun sempat terjadi sedikit salah paham dengan waktu pemutaran dan HTMnya.
Setelah menitip untuk dibelikan tiket oleh Ali, saya dan Sultra langsung menuju ke tempat pertunjukan karena kami sudah telat gara-gara sempat kesasar di daerah Cikini. Dapat tempat duduknya di balkon, karena cuma mampu membeli tiket untuk daerah tersebut,hihihi.
Ternyata acaranya sudah mulai. Di panggung, yang kira-kira jaraknya dari tempat duduk saya seperti dari Balkon Baruga AP Petta Rani Unhas bangku paling belakang, dengan background 5 layar kira-kira berukuran 3 m x 1,5 m, terlihat Niniek L.Karim sedang berbicara dengan penonton sambil memasak. Memasak Nasi Goreng yang merupakan kesenangan suaminya. Dia bercerita tentang keadaan rumah tangganya. Bagaimana suaminya yang selalu mengatur kehidupannya hingga ia kehilangan kepercayaan diri karena dari urusan model rambut hingga pekerjaan semua harus minta persetujuan suami. Belum lagi kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya yang membuat sang perempuan pergi dari rumah membawa serta kedua anaknya. Sederhana tapi tepat sasaran!
Penampilan kedua dengan hanya meja kerja di atas panggung, dibuka dengan siluet perempuan mandi. Rieke Dyah Pitaloka berperan sebagai seorang politisi. Walaupun kesan Oneng-nya sesekali muncul tapi kecerdasan Rieke sangat menonjol dalam menyatukan semua isu-isu perempuan. Tentang kehidupan wanita karir hingga ke poligami. Saya suka bagian ini karena tidak terlalu mendiskreditkan laki-laki, ini terlihat waktu Rieke bercerita tentang suaminya yang selalu mendukung apapun yang ia lakukan.
Ria Irawan, sang Jablay Independen. PSK yang tidak ingin memakai jasa germo. Bercerita tentang kehidupan perempuan malam. Mungkin karena kesan yang ditinggalkan Rieke di babak sebelumnya sangat dalam, hingga Ria terlihat biasa saja atau mungkin banyak kata yang Ria ucapkan yang tidak keluar sempurna.
Klimaksnya, Rieke yang diikat tali dan mencoba melepaskan diri berkata," Kau pikir aku takut apa? Telah terlanjur ku ikrarkan janji pada payudara ibu yang kering hingga bernanah untuk menyusui bayi-bayi busung lapar yang ditinggal mati ayah karena TBC." (kira-kira seperti itu kata-katanya)

Saya puas!!Ini adalah pertunjukan teater pertama saya seumur-umur. Mungkin reviewnya kurang dalam. Maafkan, ini pandangan orang yang awam teater.

Terima Kasih kepada Sultra yang sudah mengajak saya untuk menonton, walaupun pegalnya minta ampun.

Tuesday, March 4, 2008

Ayat-Ayat Cinta


Entah mengapa saya setuju-setuju saja dengan ajakan Icci untuk menonton film ini. Padahal saya baru saja pulang dari menonton film yang merupakan adapatasi novel best seller bersama Sultra dan Eni. (Pegalnya belum hilang)
Mungkin salah satunya adalah karena saya ingin melihat kembali adegan Fahri bin Abdullah menangis. Setiap adegan yang dilakoni oleh Fedi Nuril dengan berair mata mengingatkan saya akan film-film Korea yang beberapa tahun belakangan sedang ngepop, dimana aktor pria memandang lurus ke depan dan tanpa berkedip kemudian setitik air mata jatuh dari salah satu sudut matanya dan mengalir di atas pipi. Menurut saya, orang yang kadang-kadang berair mata, melakukan hal tersebut sangatlah sulit apalagi di sekeliling orang banyak.
Atau adegan dimana pemerannya menggunakan Bahasa Arab, sambil bercakap. Walaupun tidak keseluruhan film ini berbahasa arab. Hanya pada dialog-dialog tertentu, seperti "Aku mencintaimu". Saya tidak sempat mencatat lafaznya.

3 dari 5 point untuk film ini. Sepertinya Hanung Bramantyo ingin menampilkan sisi kehidupan pernikahan dengan lebih dari satu istri dalam Islam, yang tidak dipaparkan dalam novelnya. Padahal menurut saya ending cerita di dalam novel yang berjudul sama sudah sangat bagus, bahkan membuat saya terharu waktu membacanya dua tahun yang lalu. Tetapi sepertinya sang sutradara punya interpretasi sendiri dalam mengakhiri film ini.
Banyak yang kebobolan di film ini seperti misalnya pada saat sholat berjamaah dengan Fahri, Aisyah tidak melepas cadarnya, banyak pengucapan ungkapan yang tidak pada tempatnya, seperti kata "Subhanallah" yang diucapkan pada saat kata "Masya Allah"-lah yang sebaiknya meluncur. (Saya juga kurang mengerti...belum kursus bahasa Arab)
Unsur-unsur India juga tidak lepas, ini terlihat pada flat yang ditinggali seperti rumah tempat orang dapat menari-nari seperti dalam film Kabhi Kushi Kabhi Gam. Jadi, suasana pernikahan Aisyah dan Fahri seperti pernikahan yang tidak terjadi di Mesir tapi di Bollywood.
Tapi, setelah menunggu dua bulan, akhirnya film ini diputar juga yang seharusnya terjadi bulan Desember tahu kemarin. Dan tidak terlalu mengecewakan. VJ Riyanti cocok dengan Aisyah, Fedi Nuril cocok menjadi Fahri, pemeran Maria juga. Belum lagi soundtracknya, bagus!
Tetapi, kok lagu yang dinyanyikan sama Sherina itu mirip dengan Uninvited-nya Alanis Morisette ya?
(Di Jakarta, film ini dapat jatah dua studio setiap bioskop 21, dan semua antriannya panjang..kalau di Makassar?)

Friday, January 18, 2008

Perempuan Punya Cerita


Jenis Film
DRAMA
Pemain
RIEKE DYAH PITALOKA, RACHEL MARYAM, ARSWENDY NASUTION, KIRANA LARASATI, FAUZI BAADILA, SHANTY, SUSAN BACHTIAR, SARAH SECHAN
Sutradara
NIA DINATA, UPI, LASJA F. SUSATYO, FATIMAH T. RONY
Penulis
VIVIAN IDRIS, MELISSA KARIM
Produser
NIA DINATA
Produksi
KALYANA SHIRA FILMS
Durasi
109 MIN


Film ini merupakan antologi dari beberapa film pendek yang mengangkat tema yang sama.

1. Cerita pulau
Seorang bidan, Sumantri (Rieke Dyah Pitaloka) yang mengabdikan hidupnya untuk membantu kelahiran di sebuah pulau dan di vonis menderita kanker payudara. Di pulau ini Sumantri hidup bersama suaminya dan sangat menaruh perhatian kepada Wulan (Rachel Maryam) yang menderita keterbelakangan mental. Walaupun Wulan tidak “normal” tetapi tubuh Wulan berbentuk seperti perempuan pada umumnya. Wulan diperkosa oleh beberapa pemuda yang melihatnya sedang bermain-main pantulan cahaya di dermaga. Sumantri melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib tetapi ternyata Sumantri masih terlibat dengan kasus lain yaitu kasus aborsi.Wulan kemudian hamil.

2. Bagian kedua adalah Cerita Jogjakarta
Adegan pertamanya memperlihatkan sekelompok anak SMA laki-laki yang sedang duduk di hadapan komputer di sebuah warnet. Menonton film porno. Safina (Kirana Larasati) dan gengnya datang dan meminta pertanggungjawaban dari anak-anak laki-laki tersebut karena teman gengnya hamil. Sang teman yang hamil bingung yang mana benih dikandungnya, diperjelas oleh salah seorang anak laki-laki SMA dari kelompok tersebut, mereka melakukannya bergiliran. Di warnet itu juga ada seorang wartawan yang menyamar menjadi mahasiswa bernama Jay (Fauzi Baadilla) yang memperhatikan kejadian tersebut. Safina dan kawan-kawannya pergi ketika salah seorang dari kumpulan anak laki-laki tersebut mengusir karena ke”tegang”an mereka terganggu. Jay bertanya kepada penjaga warnet (Arie Daging) tentang dapatnya situs-situs dewasa di akses di warnet tersebut. Penjaga warnet malah menambahkan kalau dia juga menyediakan ruangan sempit untuk indehoy.
Safina berkenalan dengan Jay di sebuah warung dan kemudian menjadi akrab. Dan Safina jatuh cinta kepada Jay. Jay kemudian balik ke Jakarta.

3. Cerita Cibinong
Esi (Shanty) memiliki seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP yang selalu diejek oleh anak-anak di lingkungannya karena ibunya bekerja di sebuah klub dangdut. Di klub dangdut Esi bekerja sebagai tukang sapu-sapu saweran trio Dag-dig-dhuer yang salah satu personilnya yang paling terkenal bernama Cicih (Sarah Sechan). Cicih adalah seorang perempuan yang sangat ingin menjadi artis terkenal.
Esi tinggal bersama seorang pria yang bukan suaminya. Pada suatu malam dia mendapati anak perempuannya sedang disuruh melakukan perbuatan yang tidak senonoh kepada laki-laki itu. Esi meninggalkan rumahnya dan kemudian pindah ke rumah Cicih.
Cicih bertemu dengan Mansyur di pasar sewaktu ia sedang berjalan-jalan bersama anak perempuan Esi. Mansyur membujuk Cicih agar mau membujuk Esi untuk menjual anaknya ke Batam. Tetapi Esi tidak mau. Akhirnya Cicih membawa paksa anak perempuan Esi karena iming-iming akan diorbitkan di ibukota oleh Mansyur.

4. Cerita Jakarta
Laksmi (Susan Bahtiar) adalah janda keturunan Tionghoa yang ditulari penyakit AIDS dari suaminya, Reno, (Winky Wiryawan) yang seorang junkie. Reno merupakan seorang ningrat yang membuat Laksmi tidak disukai oleh keluarga suaminya, dan anaknya ingin diambil alih oleh orang tua Reno setelah Reno meninggal.
Ditengah kemampuan badan yang semakin lemah karena penyakit yang diderita, Mei harus menghadapi kenyataan kalau dia tidak diterima di lingkungan manapun. Bahkan di lingkungan keluarganya sekalipun. Mei juga sudah tidak punya uang dan pekerjaan karena dia harus membawa anaknya jauh dari mertuanya yang sudah menguasai rumahnya.
Sehingga pada suatu waktu, Mei meninggalkan anaknya sendirian di tempat kost pada waktu dia pergi berobat di sebuah rumah sakit. Pada saat Mei sampai di rumah kamar kostnya terbakar.

Di cerita pertama, kita melihat punggung. Entah apa maksudnya. Kita juga dibuat gemas karena ternyata uang dapat menyelesaikan segalanya bahkan untuk urusan pemerkosaan sekalipun. Mungkin karena yang diperkosa adalah perempuan yang cacat mental yang mana Sumantri menyebutnya sebagai “Istimewa”.

Cerita Jogjakarta menunjukkan perempuan yang melakukan seks pra-nikah karena cinta. Saya melihat seorang perempuan yang berani mengambil keputusan. Walaupun akhirnya dia merasa ditipu, dimanfaatkan. Saya suka dialog di akhir cerita ini. Yang lucu SMAnya bernama SMA 69 Darma. Kirana Larasati (yang sejak kemunculannya pertama di televisi, saya sangat ingin melihatnya main di film layar lebar) memang sangat cocok memerankan Safina. Di sini kita dapat melihat bagaimana anak-anak SMA begitu lihai dalam bermain seks tanpa malu-malu lagi dan dapat dilakukan di mana saja, bahkan di stadion olahraga yang sudah tidak terpakai.

Cerita ketiga dipenuhi dialog berbahasa Sunda. Sarah Sechan top sekali sebagai penyanyi di Klub Merem Melek. Aktingnya betul-betul natural. Tertunai sudah cita-cita yang dia sebutkan di setiap acara MTV Movie Awards. Shanty juga memikat. Di akhir adegan terlihat kekompakan sesama perempuan yang merasa senasib sepenaggungan karena menjadi korban dari perdagangan manusia.

Cerita terakhir, serius, membuat saya menangis di adegan terakhir. Waktu Laksmi mencium baju anaknya yang dia simpan di dalam tasnya. Cerita yang ini lebih ke pertarungan batin seorang ibu yang terkena penyakit mematikan. Susan Bahtiar cantik sekali. Betulan, cantik!

Film ini adalah sebuah film yang terdiri dari beberapa film pendek. Tidak ada keterkaitan dari setiap cerita kecuali bahwa setiap cerita mewakili perempuan dengan kisahnya masing-masing. Seperti mozaik. Berawal dari pemerkosaan, seks, cinta, perdagangan manusia, dan hubungan batin antara ibu dan anak. Selain hal-hal itu film ini juga menunjukkan perempuan mengalami diskriminasi ganda, di dalam diskriminasi masih ada diskriminasi yang lain lagi bagi perempuan.

Saya mendengar tentang film ini tadi pagi di Putuss Prambors. Arie Daging secara tidak sengaja sedikit berpromosi tentang film ini. Dan ternyata film ini betul-betul sudah masuk di Makassar, saya melihat informasinya di koran. Saya kemudian menonton pemutaran perdana dengan teman saya dan tiga orang penonton lain. Yah, kami cuma berlima. Saya sangat menyayangkan banyaknya adegan yang disensor di film ini, terutama untuk Cerita Jogjakarta. Seolah-olah LSF ingin menutup mata tentang fenomena yang terjadi.

Setelah menonton film ini saya gemas sendiri, tidak dapat dipungkiri memang, hal-hal yang disajikan di film ini adalah realita yang terjadi di sekeliling kita. Disajikan, mungkin, setiap hari di media, cetak maupun elektronik. Dan kemudian saya ketakutan sendiri, jika di masa yang akan datang nanti keadaannya akan semakin memburuk. Belum lagi dengan perhatian pemerintah yang sangat minim. Bagaimana dengan anak-anak perempuan di masa depan nanti? Sebagian besar film ini menunjukkan “kerugian” menjadi perempuan yang selalu menjadi korban. Fisik maupun mental. Film ini juga menunjukkan kalau perempuan tidak selamanya mengandalkan perasaannya, perempuan juga bisa realistis.

Ingin rasanya menonton film ini bersama teman-teman WWN... Dimana kalian sekarang?

PS: Kalau ada yang punya versi uncensored dari film ini, email saya please!!

Friday, August 3, 2007

Perempuan, Rumah Kenangan

Membaca novel ini tidak bisa membuat saya berhenti. Serius. Padahal hari itu saya lelah sekali. Ian, si aku, berhasil membuatku terjaga di hari yang sumpek itu. Ian yang cinta hujan, cinta buku, cinta perempuan, sangat membenci laki-laki dan menyesali diri terlahir sebagai seorang laki-laki. Yang pada usia 43 tahun telah berhasil mewujudkan mimpinya tentang Rumah Buku untuk para pecandu buku di Makassar dan mengungkapkan seluruh rahasia tentang perempuan-perempuan yang lalu lalang dalam hidupnya. Walaupun akhirnya hanya satu perempuan saja yang terus terpatri yang kemudian membuatnya tidak akan menikah, perempuan yang namanya tidak boleh disebut. Seperti Voldemort di kisah-kisah Harry Potter.

Bagian-bagian terfavourite yang membuatku tersenyum adalah:
Perempuan itu seperti anak kecil, senang mengatakan tidak; sementara laki-laki seperti seorang anak kecil yang idiot, menanggapi penolakan perempuan dengan sangat serius (hal.80)

Aku hanya berbagi rahasia dengan Tuhan – sahabat paling baik yang menyediakan telinganya dan tidak membiarkan bibirnya bocor lalu menceritakan kepada siapa-siapa (hal.155)

Di dalam buku ini banyak kutipan-kutipan. Beberapa bagian dari beberapa bab dapat ditemukan di buku kumpulan puisi penulis “Hujan Rintih-Rintih” dan di www.pecandubuku.blogspot.com.

PS : Buat Sultra, selamat sirik yaa?? Bukunya K’Aan bagus deh

Sunday, July 1, 2007

3 Hari untuk Selamanya


Sejak pekan lalu saya berencana menonton film ini bareng K’Enny- teman di WWN – tetapi batal karena sesuatu dan lain hal. Hari ini cita-citaku untuk menonton film ini tercapai. Perginya bareng Ikha, Nandha (adik Ikha), Mirna (sepupu Ikha) dan Lei (teman SMA Ikha). Ternyata nomat di PIM I ramai sekali, tidak jauh beda dengan nomat di MP. Penuh dengan anak-anak remaja. Mirna sebenarnya sudah nonton filmnya dan mengatakan kalau filmnya membosankan, tidak orisinil dan meaningless. Itu dikatakan oleh orang yang menilai film horror Indonesia adalah film yang orisinil. Untungnya tiket untuk film yang lain sudah habis (yess!!) dan penjaga loket yang galak sekali sehingga kita harus memilih film dengan cepat. Inilah untuk pertama kalinya saya duduk di deretan paling depan (hanya kursi-kursi itu yang tersisa).

Kami terlambat masuk sekitar 3 menit film sudah berlangsung memperlihatkan adegan Ambar (Adinia Wirasti) sedang asyik menggoyangkan tubuhnya di bawah kelap-kelip lampu diskotik.

Filmnya lumayan. Ardinia Wirasti memikat sekali, berperan sebagai anak orang kaya yang hanya tahu bersenang-senang. Dialog yang paling saya suka waktu dia berbicara dengan patung Bunda Maria di Sendangsono - tempat ziarah umat Katolik - , ”Halo Bunda Maria! Lama tidak berjumpa. Saya tahu saya bukan Katolik tapi saya pernah sekolah di TarQ” kemudian dia menyatukan kedua tangannya seperti cara umat kristiani berdoa dan berkata lagi,”I need your help..”
Nicholas Saputra, kayaknya, seperti biasa selalu kebagian dialog-dialog panjang dan selalu terlihat pintar saat mengucapkannya. Kalau mau lihat bagaimana mupengnya Nicholas, silahkan nonton film ini. Perhatikan adegan waktu dia memandang seorang ronggeng di pinggir pantai, yang kata Ambar suasana di situ, ”Busuk tapi mistis”.

Saya agak terganggu dengan jeda-jeda yang sangat banyak di film ini. Jedanya panjang sekali. Seandainya jedanya itu seperti dalam film-film Korea atau Jepang, dimana ada dua orang yang saling bertatapan dengan jarak tertentu dengan ekspresi masing-masing, mugkin saya tidak akan mengantuk sesekali dengan film ini. Dan tentu saja LSF yang membuat film ini menjadi sangat tidak rapi dan ta’gentung!

Secara(ceile!!) saya duduk di deretan paling depan, begitu lampu menyala setelah pemutaran film selesai, saya dapat melihat bentuk penonton-penonton lain di belakang. Astaga, sebagian besar penontonnya umur-umur yang SMP saja belum tamat!!*geleng-geleng


(Terima kasih, Kha! Untuk merchandise notebook dan kaos 3 Hari untuk selamanya!)

Thursday, May 31, 2007

Top 24 For 24

Di usia dua lusin lewat beberapa hari.Sebelum bulan Mei ini berakhir. Saya ingin menghadiahkan diriku “24 Lagu-lagu Terbaik Sepanjang Masa- Rosa.A version”

1.Reflection – Christina Aguilera
“Why must we all conceal
What we think, how we feel?
Must there be a secret me
I'm forced to hide?
I won't pretend that I'm
Someone else for all time
When will my reflection show
Who I am inside?”


2.Half Life – Duncan Sheik

“before the truth goes back into hiding
I want to decide 'cause it's worth deciding
to work on finding something more than this fear
It takes so much out of me to pretend
tell me now, tell me how to make amends

3.Hamburg Song – Keane
“I don't wanna be adored
Don't wanna be first in line
Or make myself heard
I'd like to bring a little light
To shine a light on your life
To make you feel loved

No, don't wanna be the only one you know
I wanna be the place you call home"

4.How’s It Gonna Be – Third Eye Blind
“Where we used to laugh, There's a shouting match,
Sharp as a thumbnail scratch,
A silence I can't ignore,
Like . . The hammock by the doorway we spent time in, Swing empty,
don't see lightning like last fall when it was always about to hit me, I wonder

How's it going to be, When it goes down,
How's it going to be, When you're not around,
How's it going to be, When you find out there was nothing,
Between you and me, 'Cause I don't care,
How's it going to be"

5.Don’t Look Back In Anger – OASIS
“So I'll start a revolution from my bed
cuz you said the brains I had went to my head
Step outside, summertimes in bloom
Stand up beside the fireplace
Take that look from off your face
You aint ever gonna burn my heart out"


6.A Minute Without You - Hanson
"Cause when the minutes seem like hours and the hours seem like days
Then a week goes by you know it takes my breath away
All the minutes in the world could never take your place
There's one-thousand-four-hundred-forty hours in my day"

7.Numb - Linkin Park
"I'm tired of being what you want me to be
Feeling so faithless lost under the surface
Don't know what you're expecting of me
Put under the pressure of walking in your shoes
Every step that I take is another mistake to you

I've become so numb I can't feel you there
Become so tired so much more aware
I'm becoming this all I want to do
Is be more like me and be less like you"


8.The Man who Sold The World – Nirvana
"We passed upon the stair
We spoke of was and when
Although I wasn't there
He said I was his friend
Which came as a surprise
I spoke into his eyes
I thought you died alone
A long long time ago"


9.Unplayed Piano – Damien Rice feat. Lisa Hinnigan
“Come and see me
Sing me to sleep
Come and free me
Hold me if i need to weep
Maybe it's not the season
Maybe it's not the year
Maybe there's no good reason
Why i'm locked up inside
Just cause they wanna hide me
The moon goes bright
The darker they make my night"

10.After Tonight – REO Speedwagon
"Staring up at the moonlight
Looking up at the stars
I'm alone and I just want to be with you
But I don't know where you are

Maybe I took you for granted
So blind, I let your love slip away
Now I'm missing you so much I can't stand it"


11.Everlasting – Manic Street Preachers
“The world is full of refugees
They're just like you and just like me
But as people we have a choice
To end the void with all its force
So don't forget or don't pretend
It's all the same now in the end
It was set in a different life
Destroys my days and haunts my nights?"


12.Firasat – Marcell
"Akhirnya..bagai sungai yang mendamba samudera
Kutahu pasti kemana kan kubermuara"


13.Run To The Water – Live

"oh desert speak to my heart
oh woman of the earth
maker of children who weep for love
maker of this birth
'til your deepest secrets are known to me
I will not be moved
I will not be moved

don't try to find the answer
when there ain't no question here
brother let your heart be wounded
and give no mercy to your fear"

14.Unpreetty- TLC
"You can buy your hair if it won't grow
You can fix your nose if he says so
You can buy all the make up
That man can make
But if you can't look inside you
Find out who am I too
Be in the position to make me feel
So damn unpretty
I'll make you feel unpretty too"


15.The Hardest Day – The Corrs

"Never wanna wake up from this night
Never wanna leave this moment
Waiting for you only, only you
Never gonna forget every single thing you do
When loving you is my finest hour
Leaving you, the hardest day of my life
The hardest day of my life"


16.Kiss From a Rose – Seal
"There used to be a greying tower alone on the sea.
You became the light on the dark side of me.
Love remained a drug that's the high and not the pill.
But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and
The light that you shine can be seen"


17.Home - Michael Buble
"And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
'I’m fine baby, how are you?'
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that"

18.One – U2
"Did I disappoint you
Or leave a bad taste in your mouth
You act like you never had love
And you want me to go without
Well it's...

Too late
Tonight
To drag the past out into the light
We're one, but we're not the same
We get to
Carry each other"

19.Sway – Bic Runga
"Don't stray
Don't ever go away
I should be much to smart for this
You know it gets the better
Of me sometimes
When you and I collide
I fall into an ocean of you
Pull me out in time
Don't let me drown
Let me down
I say its all because of you and here I go
Losing my control
I'm practising your name
So I can say it to your face it doesn't seem right
To look you in the eye
And let all the things you mean to me
Come tumbling out my mouth indeed its time
Tell you why
I say its infinately true "


20.Good Riddance (Time of Your Life) – Greenday

"nother turning point, a fork stuck in the road
Time grabs you by the wrist, directs you where to go
So make the best of this test, and don't ask why
It's not a question, but a lesson learned in time

It's something unpredictable, but in the end it's right.
I hope you had the time of your life"


21.Ana’s Song – Silverchair
"Please die Ana
For as long as you're here we're not
You make the sound of laughter
and sharpened nails seem softer
And I need you now somehow
And I need you now somehow

Open fire on the needs designed
On my knees for you
Open fire on my knees desires
What I need from you"


22.Mahadewi – Padi

23.Feels Like Home – Chantal Kreviazuk
"Somethin' in your eyes, makes me wanna lose myself
Makes me wanna lose myself, in your arms
There's somethin' in your voice, makes my heart beat fast
Hope this feeling lasts, the rest of my life"


24.Te Busque – Nelly Furtado
"I've been high I've been low
I've been fast I've been slow
I've had nowhere to go
Missed the bus missed the show
I've been down on my luck
I've felt like giving up
My life locked in a trunk
When it hurt way too much
I needed a reason to live
Some love inside me to give
I couldn't rest I had to keep on searching"

Sunday, January 7, 2007

Pocong2...yang katanya lebih seram dari Pocong yang dilarang beredar...

Dinonton di hari Jum’at, 5 Januari 2007
Jam pertunjukan 6.30 petang
Duduk di F4, Twenty One MaRI

Rencana nonton sejak kemarin tapi gagasannya telat. Nonton kali ini disubsidi langsung sama K’Eko (terima kasih !) dan diikuti oleh Oq dan saya. Sebenarnya menunggu k’Eko yang tidak kunjung datang padahal sudah ada cuap-cuap pintu Studio 2 telah teebuka lebih menegangkan daripada melihat Pocong yang dipasang di sudut ruangan TO. Serius, soalnya saya dan Oq tidak mau menanggung malukeluar dari TO tanpa berhasil nonton karena tdak mau tekor bayar sendiri. Tapi, akhirnya K’Eko muncul juga dengan membawa Bread Talk sebagai tebusan. Yeeee, tau begitu mending kita nontonnya di TO Panakukang aja kaliii...
Dengan perasaan dagdigdug melihat penjaga tiket yang bertampang sangar dan melirik-lirik kantong Bread Talk (baca: makanan dari luar), akhirnya kami berhasil juga masuk ke dalam studio yang sudah gelap. Dan K’Eko yang memegang tiket tidak tahu lagi tempat duduknya dimana. Gimana siy???
Duduklah kami semua dengan rapi. Di layar sudah muncul wajah Revalina, Ringgo Agus Rahman dan Risty Tagor. Nilai untuk Pocong 2, 7.5 dari range 1-10. Lumayanlah. Setannya terlalu sering muncul. Walaupun ada juga yang ngagetin diiringi dengan musik menghentak yang juga ngagetin. Salut buat Risty Tagor, aktingnya keren. Dan ternyata ada sang “Cengkoknya mana” main juga disini. Beda banget aktingnya dengan yang di Mendadak Dangdut. Keren juga...Walaupun saya tidak mengerti dia muncul sebagai apa sebenarnya. Dan sampai sekarang saya masih bertanya-tanya Pocongnya itu siapa sebenarnya? Atau mungkin saya yang kurang menyimak kali. Klimaksnya kurang menghentak pula. Kecuali tampang yang ngagetin lagi sebelum creditnya muncul. Adegan lucu sepanjang film OQ yang kerjanya nutup mata dan saya yang tutup kuing. Pengalaman saya efek ngeri itu lebih karena suara daripada penampakan...
Menurut yang mnraktir, Pocong pace masih lebih ngeri setan khas Makassar Parakang atau Poppo. Memangnya pernah liat?