Sudah hampir tiga bulan di Jakarta. Dan saya mulai merindukan kamar saya. Apa kabarnya ya? Apakah berhasil diobrak-abrik Indah waktu pulang akhir pekan panjang kemarin? Indah selalu tidur di kamar saya setiap dia liburan kantor. Nasib menjadi perantau adalah tidak memiliki kamar sendiri di rumah. Di kamar Acce sebenarnya ada dua tempat tidur tapi berhubung salah satunya bentuknya lebih mirip cekungan jadi Indah tidak tidur lagi di kamar itu. Walaupun tulisan “I’s Room” masih terpampang jelas di pintunya.
Kamar saya tidak terlalu besar. Tapi nyaman sekali. Saya betah seharian di dalamnya. Walau kadang-kadang setiap jam 2-4 sore panasnya minta ampun di musim kemarau. Saya pikir bagus juga, supaya saya tidak usah repot-repot tidur siang. Bisa dikatakan sangat membantu program diet.
Saya rindu dengan ratusan bintang kecil yang mengitari setengah dinding kamar saya yang menyala sekitar tiga menit sesaat setelah lampu kamar saya dimatikan di malam hari. Memandang rak buku di sebelah kiri tempat tidur. Memilih buku apa yang akan saya baca malam ini. Foto-foto tempo dulu di dinding sebelah kanan. Poster Saint Seiya, Nemo dan Dian Sastro. Teriakan Ibunda pagi hari yang supaya saya mengantar adik saya ke sekolah. Menghayal atau membalas pesan-pesan singkat hingga tertidur. Memisscalled telepon rumah kemudian berteriak,”Didit siniko dulu!”, pada saat Didit membuka pintu kemudian mengatakan,”Matikan lampuku dule”, biasanya Didit hanya bisa ngomel-ngomel tetapi saklar lampu yang letaknya mengharuskan saya bangun dari tempat tidur dia tekan juga.
I miss all those things...My messy room...
Monday, July 16, 2007
Rindu Kamar Alert!
Label: Watashi's
Cerita operasi
Ada sms dari K’Mappe. Cerita-cerita tentang beasiswa dan sebagainya. Buntut-buntutnya dia bilang hari itu dia akan dioperasi. Tentu saja saya kaget dan langsung meneleponnya.
Saya : Assalamu alaikum
MP : Wa alaikum salam
Saya : K’Mappe betulanq mo dioperasi sebent?
MP : Iya
Saya : Operasi apa?
MP : Ada benjolan di punggungku. Mo diangkat
Saya : Lokal ji?
MP : Iyo, lokal ji
Saya dan MP : Interlokal !! (Ketawa bersama)
Saya : Berapa hari miq nanti di rumah sakit? Saya kira operasi usus buntuq karena suka sekaliq makan lombok
MP : Bukan gang
Saya : Cepat ji itu kalo lokal, K’
MP : Iya, mudah-mudahan nda apa-apaji
Saya : Kabar-kabarika nah kalau sudah selesai
MP : Nanti saya kabari laki-laki atau perempuan
Saya : (tertawa). Sudah mi dulu k’, nah?
MP : Iya
Saya : Baik-baik ya. Assalamu alaikum
MP : Wa alaikum salam
Karena K’Mappe bilangnya dia akan dioperasi jam 4, pukul 6 saya mengsms dia lagi
Saya
K’Mappe gmanami operasi ta?suksesji?
K’Mappe
Bsk pgi ca. tenang mk ces kalo peremupan sy kasi nama rosa. He..he
Keesokan harinya
K’Mappe
Oca sdhmi operasi ku cz. Dibius totalka. Brka sdr. Bkn perempuan ca, laki2 keluar, jd sy ks nama ROSSI. He2x
Saya
Alhamdulillah, klo laki2 ya…
Kok dbius total ya?
Undang2 klo aqiqah hehehehe
K’Mappe
Nda tau knp. Di tolo2ikan mungkin. Soalx sy nda ingat apa2 trus wkt sadar sdh ada dkamar. Sy qra adama dsurga krn bxk bida2ri, eh terxta suster2
Saya
Pasti waktu bangunq ke’ dsinetron2,bilang bgini,”dmana saya?”,dengan muka kbingungan hahahahaha….
Ai,dpreteli miq itu sm dokter dsana..hahahaha
K’Mappe
Tdk sedramaris ituji cz. Seandaix suara y ptama sy dengar “SIAPA TUHANMU? APA AGAMAMU?” bgmanami itu?
Saya
Qta itu y mdramatisir..
Y penting smua baik2 sj ya,k’...
Trus kapan q balik?
K’Mappe
Skrgng ini lg balikma. Maksudx tidur tbalik krn dbelakang bks oprasix. Hehe. Mungkin bsk pagi ca
Seperti itulah isi percakapanku sm K’Mappe beberapa hari yang lalu. K’Mappe ini kakak kelas saya dulu di SMADA. Orangnya kurus sekali, kulitnya putih. Kreatif dan enak diajak ngobrol. Tidak akan pernah berhenti tertawa. Sebenarnya dia juga kakak kelas saya waktu SMP tapi watu di SMP 6 dulu saya cuma tahu nama saja. Sekarang dia sudah jadi dosen di teknik pertanian Unhas. Sampai sekarang kita akrab sekali. Apalagi dia mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan sahabat Indah. Smsan terakhir pasca operasi bilang dia sudah di rumah dan semoga bisa ikut tes beasiswa lagi. AYO SEMANGAT!!
Label: Free One
MISSORIENTASI!
Tentang pernikahan, jodoh dan kawan-kawannya:
Bapak : (tidak pernah berkomentar masalah ini)
Mama : Harus kerja! Setelah menikah semua subsidi dicabut!
Indah : Pokoknya saya tahun depan mau menikah
Aco : Weh, kawin-kawin mi ko itu. Toa mi ko
Acce : Saya mau cepat-cepat menikah. Ayo cepat jodohkan saya
Didit : Kakak Ocha kapanq kawin? Nda disini mi ki tinggal itu di’?
Ikha : Iya nih, nyokap gue sedikit rasis
Lisa : Saya mo nikah bulan 12, yakin gak yakin sih. Niatnya ibadah
Ananda : Nda tau juga, kenapa dia belum lamar-lamarka
K’Cimmank: Kalo setengah-setengah mendingan mundur saja
K’Lisa : Apa yang membuatmu nda yakin? Apalagi yang ko cari?
K’Ucha : Cha, kapan ini? Kalo cowo’ sudah serius disambutlah dengan baik-baik
K’Eko : Jodoh itu sudah ditetapkan 50.000 tahun sebelum bumi ini diciptakan,
jadi tenang saja
Poetry : Emangnya nikah buat halal doang?
Jess : Suamiku sudah tidak mesra lagi, sepertinya dia homo
Sultra : Istikharoh, Cha!
Eni : Nikah apaan sih?
Apip : Resolusi 2008 apa, Cha? Hah? Nikah?
Ambar : Ngapain juga nikah? Gak hamil kok
Asni : Jadi kapan kita bawa erang-erang?
Jangan pernah membahas ini dengan saya...Heleh,cape’ deh!
At least,for a while..
Label: Free One
Thursday, July 5, 2007
"You And I Both"
Was it you who spoke the words that things would happen but not to me
Oh things are gonna happen naturally
Oh taking your advice I'm looking on the bright side
And balancing the whole thing
But often times those words get tangled up in lines
And the bright lights turn to night
Until the dawn it brings
Another day to sing about the magic that was you and me
Cause you and I both loved
What you and I spoke of
And others just read of
Others only read of the love, the love that I love.
See I'm all about them words
Over numbers, unencumbered numbered words
Hundreds of pages, pages, pages for words
More words then I had ever heard and I feel so alive
Cause you and I both loved
What you and I spoke of
And others just read of
And if you could see me now,
Oh love, no
You and I, you and I
Not so little you and I anymore, mmm...
And with this silence brings a moral story
More importantly evolving is the glory of a boy
Cause you and I both loved
What you and I spoke of
And others just read of
And if you could see me now
Well I'm almost finally out of
I'm finally out of
Finally deedeedeedee
Well I'm almost finally, finally
Well I'm free, oh, I'm free
And it's okay if you have to go away
Oh just remember the telephone works both ways
And if I never ever hear them ring
If nothing else I'll think the bells inside
Have finally found you someone else and that's okay
Cause I'll remember everything you sang
Cause you and I both loved what you and I spoke of
and others just read of and if you could see now
well I'm almost finally out of.
I'm finally out of, finally, deedeeededede
well I'm almost finally, finally, out of words
(Aco bilang, "Ko itu cocok dengar Jason Mraz yang U and I Both"...)
Label: Lyrics
Sunday, July 1, 2007
Tentang Waktu Orang Lain
Seberapa berharganya waktu orang lain?As precious as our time of course. Or maybe more. Sewaktu saya masih mengajar privat dulu saya selalu senewen dengan anak murid saya yang selalu membatalkan jadwal les dengan tiba-tiba. Dengan berbagai alasan misalnya seperti,”Mau pergi berenang”, atau “Habis ulangan jadi capek berpikir”. Cuma dua jam dua kali seminggu. Mereka ini tipe anak yang memiliki orang tua jaman sekarang yang tidak puas kalau anaknya hanya ikut satu macam les saja. Terkadang saya yang jadi korban, mungkin mereka berpikir waktu saya saat itu sangat fleksibel.
Betapa beruntungnya jika kita janjian dengan seseorang kemudian di detik-detik terakhir diperwujudan janji itu kita kemudian sama-sama malas dan membatalkan janji tanpa ada yang merasa tersakiti. Saya sering sekali seperti itu. Terakhir waktu janjian sama Lisa ketemu di PIM, tapi hujan membatalkan semuanya.
Mungkin sewaktu di Jakarta sini, saya banyak membuang waktu teman-teman sekalian setiap janjian. Menunggu saya di suatu tempat tanpa tanda-tanda kehadiran. Bukan karena saya yang mengulur-ngulur tapi karena saya betul-betul belum bisa memperkirakan waktu di kota yang serba tidak pasti ini. Bahkan rumus gerak lurus berubah beraturan tidak berlaku disini. Macetnya datang-datangan seolah-olah setiap orang memiliki satu strategi yang sama mencari waktu tercepat untuk sampai ke tempat tujuan yang kemudian membuat mereka semua terjebak dalam kemacetan.
Dalam urusan janji-menjanji, mari belajar mendahulukan waktu orang lain..
Label: Free One
Rendezvous dengan Pejuang-pejuang Tangguh
Perjalanan dari Blok M ke Cipulir yang ditempuh dengan naik motor di bawah matahari pukul 12 siang. Dengan kepala yang disesakkan ke dalam helm yang kesempitan.
Makan siang yang terlambat. Kehausan yang amat sangat. Tiga jam menuju Bekasi dengan
pemandangan yang beraneka ragam.
Pulsa yang habis terkuras menanyakan bus apa yang masih tersedia jam 10 malam menuju Pondok Cabe dari Pulogadung, dan dibalas dengan huruf-huruf besar,”BERMALAM SAJA DISITU!”.
U know what? IT”S WORTH IT!!
Tak akan pernah lagi saya dapatkan suasana seperti ini..
Rumah kedua..
My Second Home...
Cinta kan membawamu...
Kembali disini..
Menuai rindu, membasuh perih
Bawa serta dirimu
Dirimu yang dulu
Mencintaiku apa adanya...
(Lagu yang setengah mati Ahsank nyanyikan di malam itu karena pemain keyboardnya se
dikit lupa dengan nadanya)
Label: Free One
3 Hari untuk Selamanya

Sejak pekan lalu saya berencana menonton film ini bareng K’Enny- teman di WWN – tetapi batal karena sesuatu dan lain hal. Hari ini cita-citaku untuk menonton film ini tercapai. Perginya bareng Ikha, Nandha (adik Ikha), Mirna (sepupu Ikha) dan Lei (teman SMA Ikha). Ternyata nomat di PIM I ramai sekali, tidak jauh beda dengan nomat di MP. Penuh dengan anak-anak remaja. Mirna sebenarnya sudah nonton filmnya dan mengatakan kalau filmnya membosankan, tidak orisinil dan meaningless. Itu dikatakan oleh orang yang menilai film horror Indonesia adalah film yang orisinil. Untungnya tiket untuk film yang lain sudah habis (yess!!) dan penjaga loket yang galak sekali sehingga kita harus memilih film dengan cepat. Inilah untuk pertama kalinya saya duduk di deretan paling depan (hanya kursi-kursi itu yang tersisa).
Kami terlambat masuk sekitar 3 menit film sudah berlangsung memperlihatkan adegan Ambar (Adinia Wirasti) sedang asyik menggoyangkan tubuhnya di bawah kelap-kelip lampu diskotik.
Filmnya lumayan. Ardinia Wirasti memikat sekali, berperan sebagai anak orang kaya yang hanya tahu bersenang-senang. Dialog yang paling saya suka waktu dia berbicara dengan patung Bunda Maria di Sendangsono - tempat ziarah umat Katolik - , ”Halo Bunda Maria! Lama tidak berjumpa. Saya tahu saya bukan Katolik tapi saya pernah sekolah di TarQ” kemudian dia menyatukan kedua tangannya seperti cara umat kristiani berdoa dan berkata lagi,”I need your help..”
Nicholas Saputra, kayaknya, seperti biasa selalu kebagian dialog-dialog panjang dan selalu terlihat pintar saat mengucapkannya. Kalau mau lihat bagaimana mupengnya Nicholas, silahkan nonton film ini. Perhatikan adegan waktu dia memandang seorang ronggeng di pinggir pantai, yang kata Ambar suasana di situ, ”Busuk tapi mistis”.
Saya agak terganggu dengan jeda-jeda yang sangat banyak di film ini. Jedanya panjang sekali. Seandainya jedanya itu seperti dalam film-film Korea atau Jepang, dimana ada dua orang yang saling bertatapan dengan jarak tertentu dengan ekspresi masing-masing, mugkin saya tidak akan mengantuk sesekali dengan film ini. Dan tentu saja LSF yang membuat film ini menjadi sangat tidak rapi dan ta’gentung!
Secara(ceile!!) saya duduk di deretan paling depan, begitu lampu menyala setelah pemutaran film selesai, saya dapat melihat bentuk penonton-penonton lain di belakang. Astaga, sebagian besar penontonnya umur-umur yang SMP saja belum tamat!!*geleng-geleng
(Terima kasih, Kha! Untuk merchandise notebook dan kaos 3 Hari untuk selamanya!)
Label: Review
Tuesday, June 5, 2007
Miss my mom so
How old is your mother?
* 20 November 2007,51 tahun
What do you call your mother?
* ma'
How is your relationship with your
mother?
* dekat..sharing everything..tapi kadang-kadang suka gak sejalan juga sih..
Does she have another/other children
besides you?
* iya, saya masih punya empat adik
Is she a good mechanic?
* tidak sama sekali
is she a good chef?
* sangat..helm kalo beliau yang ngasih mentega pasti jadinya enak juga heehhe
Where was she raised?
* di soppeng
Do you love your mother?
* sangaaaaaatttt....!!!pangkat 1000
When was the last time you saw your
mother?
* 23 april 2007
What is her favorite TV show?
* infotainment
What is your mother's favorite
resturant?
* mie titi
What kind of music does she like?
*siti nurhaliza
Does your mother work?
* ibu saya ibu rumah tangga sejati
What is your mother's favorite store?
* tergantung siy..mo belanja apa dulu..klo belanja bulanan di carrefour
Does she know who Britney Spears is?
* sapa sih yang gak kenal britney?
Is she a good driver?
* mama saya tidak bisa menyetir dan bukan juga penumpang yang baik heehhehe...suka bikin kaget
What is her favorite color?
* hijau
Where is your mother right now?
* kalo jam segini biasanya lagi di kamarnya main game big money di komputer sambil nonton tivi..hebat kan?
What did you give your mother for
mother's day?
* apa ya?dulu pernah ngasih kartu
Your mother is ...
* segalanya..cie..
Label: Free One
Ada apa di Bandung?
Setelah direncanakan sejak sebulan kemarin akhirnya kami sampai juga di Bandung. Entah kapan terakhir saya menginjak kota ini. Sudah lama sekali. Lamaa sekali. Ingatan-ingatan tentang kota ini tak berbekas sama sekali.
Bandung ini ramai sekali. Long Weekend. Pedagang-pedagang kaki lima bertebaran di mana-mana. Mulai dari penjual makanan(siomay, batagor, jus strawberry, brownies, rujak, dkk), hingga barang pecah belah.
Di perempatan Jl. Riau dekat FO Heritage ada sebuah mobil pick-up yang berisi barang pecah belah. Mereka menjual piring-piring, mangkuk-mangkuk, cangkir-cangkir sampai pemantik ex-pesawat dan hotel. Semuanya lucu-lucu dan unik-unik. Parfum juga ada. Sepupu saya membeli cangkir yang besarnya seperti mangkuk, sehingga anaknya berujar,
“Kalau pakai cangkir ini, tamunya tidak usah dikasih kue. Sudah kenyang dengan teh saja”.
Sepupu saya bilang barang-barang itu kelebihan produksi atau mungkin ada cacatnya atau mungkin sudah tidak up-to-date lagi unuk digunakan di atas pesawat atau di hotel-hotel. Banyak juga yang belanja di mobil pick-up itu. Begitu juga dengan penjual-penjual yang ada di sekitarnya.
Pantasan sepupu saya sampai bela-belain tidak beli cangkir di Jakarta saja. Ternyata dia sudah tahu tempat dimana bisa menemukan cangkir yang unik dan murah.Dan ini sudah dia rencanakan sejak pertama kali pindah. Berburu cangkir sampai ke Bandung.
Label: Free One
Spooky?!
Setelah sepupu saya pindah rumah, saya lebih banyak tinggal di rumah sendirian. Aco hanya pulang saban akhir pekan, itupun kalau dia tidak ke Bandung. Begitu pula dengan tante saya yang lebih memilih tinggal di kostan dekat kantornya setiap hari kerja.
Rabu itu saya ada janji nonton sama K’Enny WWN di TIM. Nonton film gratis. Janjian di Sarinah Thamrin pukul 4.30 sore karena filmnya main jam 17.30. Di tengah-tengah penantian waktu berangkat Aco menelpon, mau datang antar kunci. Tunggu, tunggu, tunggu, sudah jam 2 adinda yang kribo itu belum datang-datang juga. Sesaat setelah saya hampir pingsan – lagi malas masak dan titip makanan sama Aco - akhirnya dia datang bersama seorang temannya yang ternyata anak komunikasi UNHAS. Makan beramai-ramai sambil cerita-cerita tentang keadaan kampus sekarang.
Setelah mematikan mesin pompa air dan menyalakan lampu teras, pukul 3.30 meninggalkan rumah yang semakin membuatku tidak yakin untuk sampai di Sarinah tepat waktu. Apalagi melihat bus yang kami tumpangi lewat di Radio Dalam. Urgh!
***
Setelah menyerobot bapak-bapak dalam pertarungan merebut bajaj – di Sarinah jam 5-an bajaj kayak dilelang, harus agresif - akhirnya saya dan K’Enny sampai juga di TIM. Nonton gratis (Hikayat Taira), cuma berlima di dalam bioskop, ACnya bikin konsentrasi terganggu. Dingin. Setelah nonton pergi menengok pameran foto, mumpung lagi di TIM. Sudah itu makan malam bersama dan pulang ke rumah masing-masing. Memabawa setumpuk kelelahan.
***
Pukul 22.30 saya berjalan mengarungi jarak yang hampir 1,5 km menuju rumah. Tak ada bulan. Gelap sekali. Mana lampu jalannya mati semua. Tapi saya sudah tidak peduli gelap. Sudah sangat pegal.
Atap rumah yang gelap sudah kelihatan. Merogoh saku, mencari kunci pintu. Malam ini tidur sendiri lagi.
Sewaktu mau memasukkan kunci, melihat ke dalam rumah – gorden masih belum tertutup- sempat kaget sesaat. Kok lampu ruang tengah menyala ya?. Berusaha menenangkan diri, membuka pintu dan mengucapkan, “Assalamu alaikum”, keras-keras. Seingat saya, sewaktu berangkat tadi lampu ruang tengah tidak saya nyalakan. Kembali berusaha menenangkan diri dan menduga mungkin Aco yang nyalakan tadi sebelum pergi tapi saya tidak perhatikan. Langsung kunci pintu depan. Mematikan lampu ruang tengah dan masuk ke kamar. Tetapi, saya haus sekali. Harus ke dapur lagi, ambil minum? Aduh, kagetnya belum hilang. Harus berani. Harus berani. Masuklah saya ke dapur mengambil air minum. Belum sampai di dapur yang sangat gelap, saya kaget lagi. Pintu yang menghubungkan ruang praktek dengan ruang makan tertutup. Selama saya ada di Jakarta pintu itu tidak pernah tertutup dan saya tidak merasa pernah menutupnya. Lagi-lagi saya menuduh Aco yang menutupnya sebelum berangkat tadi. Untuk lebih menenangkan hati.
Kemarin malamnya waktu menginap di rumah sepupu saya untuk menemani keponakan karena sepupu saya ke Cirebon, asisten rumah tangganya bertanya apakah semua pintu rumah sudah dikunci. Dan saya bilang sudah. Asisten rumah tangganya melanjutkan biar tidak dikunci tetap ada yang jaga. Saya sudah mengerti arah pembicaraannya. Entah maksudnya. Mau menakut-nakuti atau memang cuma ingin berbagi informasi. Katanya dia pernah ditanya sama Pak Satpam yang patroli malam, suami sepupu saya kok masih duduk-duduk di tangga batu depan rumah padahal sudah jam 12 malam. Padahal suami kakak sepupuku itu terkenal sebagai orang yang paling cepat tidur di rumah.
Saya masuk ke kamar. Entah mengapa perasaanku tidak terlalu panik, mungkin karena selalu ada Aco yang menjadi sasaran tuduhan. Hehehehe... Melihat ke lemari kecil yang di atasnya ada kunci pintu samping. Jadi dua kunci rumah, samping dan depan ada di saya. Untung sekali malam itu saya sangat kelelahan jadi dapat tidur cepat.
***
Selain tinggal lebih sering di rumah sendirian, sejak sepupuku tidak tinggal di sini lagi, saya harus menghandle surat-surat yang datang. Termasuk surat kabar. Tukang antar surat kabar maksud saya (kan adaji kata surat-nya, red.). Saya harus membayar tagihan Kompas. Tukang koran disini datang sangat subuh. Lebih subuh daripada adzan subuh. Dan ini membuat saya sangat kesusahan bangun apalagi di saat-saat saya sedang tidak shalat.
Pukul 5.30 saya berusaha bangun. Langsung menuju pintu depan, mengejar tukang koran. Tapi teryata korannya sudah tergeletak di depan pintu. Gagal lagi. Koran pun saya bawa masuk ke dalam. Sebelum masuk lagi ke kamar untuk melanjutkan tidur yang terputus. Menoleh ke kanan dengan tangan kiri memegang gagang pintu, lho kok pintu kamar mandi yang di bawah tangga terbuka ya? Tadi malam tertutup, kan? Tidak terlalu memikirkan karena masih dalam keadaan setengah sadar.
Terkadang, saya susah sekali membedakan antara kenyataan dengan mimpi tidur. Jadi, dalam kasus pintu kamar mandi bawah tangga untuk sementara pembenarannya adalah pintu tertutup itu adalah pintu yang saya lihat dalam mimpi. Perasaanku sedikit tenang lagi. Dan melanjutkan tidur dengan tenang. Terbangun lagi pada pukul 9.30-an. Menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Memandangi sekilas pintu ruang praktek yang masih tertutup. Kemudian cuek lagi karena hari sudah terang. Melihat ke bak cuci piring. Dan ada gelas lengkap dengan bekas lipstik di bibirnya. Di bibir gelas maksudnya. Okeh, saya pernah mencuci gelas yang bentuknya seperti itu. Dan apakah itu di dalam mimpi atau di dunia nyata saya kembali tidak yakin. Gelas itu tetap saya cuci. Baru bikin sarapan. Pokoknya keanehan-keanehan ini masih ada pembenaran. Plus hari sudah siang.
Hari Kamis itu, entah mengapa, kepala saya sakit sekali. Sakit sekali hingga tidak ada niat mau keluar rumah. Tapi saya harus mencuci. Baju sudah bejibun. Menjemur di lantai dua. Menutup pintu tempat jemuran. Kepala sudah berat. Kleyengan, meminjam istilah Sultra. Okeh, ini sudah tidak mungkin, sapu pindah ke lantai 2. Aco tidak mungkin pegang sapu. Dia paling anti disuruh kerja kerjaan rumah tangga. Kemarin sapu ini masih di bawah. Kemarin saya menyapu dan sapu bergagang biru itu saya sandarkan di dinding dekat kamar. Dan sekarang sapu itu ada di lantai dua.
Sepertinya kepala saya semakin sakit saja. Harus keluar rumah. Harus. Ke warnet. Tujuan yang palin dekat. Pakaian. Cabut ke warnet. 3 jam disana. Ganti skin. Chatting sama K’Ancu, Hatta dan Nanny. Pulang. Ternyata hujan. Tetap berjalan karena sakit kepala sudah tak tertahankan. Stereotip malam Jum’at menghantui. And then made a promise to myself, kalau lampu ruang tengah menyala lagi saya langsung pergi ke rumah sepupu saya.
Rumah ternyata gelap gulita. Tidak ada cahaya sama sekali. Tidak ada keanehan lagi. Saya masuk ke dalam rumah. Langsung ke kamar. Kunci pintu. Berbaring. Mencoba terpejam. Kepala tidak bisa diajak kompromi. Urgh!!
Pintu saya berguncang-guncang. Kaget sekali.
”Rosa, ada ko di dalam?”, suara tante saya terdengar dari luar. Saya cuma bisa bilang, “Iya”. Dan langsung keluar kamar. Cara masuknya bagaimana ya?
“Bagaimana carata masuk?”, sambil kepala diketok-ketok menghilangkan rasa sakit.
“Kan ada kunciku. Dari tadi malam saya bermalam. Ko nda rasa? Dasar tukang tidur”.
Saya kemudian tertawa keras sekali. Lega dan lucu rasanya. Sekali lagi, maafkan saya Aco...hehehe
Label: Free One