CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Wednesday, April 11, 2007

TERIMA KASIH ITU UNTUK....

Orang-orang yang setia memberikan semangat, doa dan motivasi. Orang-orang yang rela membuang-buang pulsanya untuk mengirimkan pesan singkat dengan kata-kata, “Ciayyo!”, “Gambatte!”, “Semangat!”, “Badai Pasti Berlalu”, “Tersenyum saja kalau tak bisa menjawab”, “Santai...”...seperti itulah kira-kira...dan special untuk tiga orang yang sangat istimewa yang meneleponku sesaat sebelum ujian sidang sarjana..U know who U are!!..dan tentu saja orang-orang yang menelepon sesudahnya dengan sapaan,” Gimana? Suksesji?”..

Terima Kasih untuk:

- Allah Subhana Wa ta’ala..Tuhan yang Maha Kreatif...Ridhoilah senantiasa jalan yang aku pilih...

- Bapak dan Mama, yang sudah mendesak secara halus supaya cepat selesai mengingat adik saya telah mendahului..hehehehe. Untuk segala luapan emosi dan bantuan finansial serta doa yang setiap saat terlafadzkan dalam hati

- The Wahabs Crew : Indah, S.ST, Aco Lotong, Acce n Didit..calla-callanya berhasil. Terutama si Bungsu yang selalu bilang,” Aiiii, Kakak Ocha dilombai sama kakak Indah. Pacce!”

- Sahabat, yang tak akan kutemukan dua kali di dunia ini, so I’ll keep u guys in my heart..selamanya....

Teman SD : Qkho, Ila, Lya...Let’s share those laughs and tears together again..again..again...okay, siapa EO pertemuan selanjutnya?

Teman SMP : Lisa, Poetry, Andina, Ikha, Anandha, Onhe...I still dont understand why we still connect each other ‘till this second? Maybe this what they call ‘Soulmate’?

Teman SMA : BP Crew...do I have to mention ur name one by one? Terlalu banyak yang telah kalian berikan dan saya tidak bisa menyebutnya satu persatu

Teman Kuliah : 5 Musketeers...Ahsank (kapan kita diskusi lagi?), Echank (Sang Ketua Angkatan), Cullank (the Joker), Chullunk (for ur help at BK 03), Muflih (Cinta cinta), Uny Pingu (ibu dosen), Anti Mickey (teman makan yang sudah betah di kampung halaman), Mule (so let keep the secrets), Sultra (thanx God I Found U!), Eni (Thanx Sultra I Found U!), Adinda Uphy dan Asni dan Ulla (entah saya ingin berkata apa lagi?)

- Kakak2 ketemu gede...yang membuatku semakin mencintai dunia mahasiswa ini:

Februadi Bastian a.k.a K’Mappe (SMADA 00), walaupun Ebi wisuda Desember tapi ijazah dan transkrip saya lebih duluan jadi..hehehe

Risma Haris a.k.a K’Cimmank (00), mentor SIG tersabar. Kunanti kedatanganta untuk nginap2 lagi dan curhat2 lagi.

Eko Hadi Purnama (99), dunno what to say...speechless!!I’m awake afternoon....(silahkan dilanjutkan, ;-))

Akmaluddin a.k.a K’Ake (99), untuk semangat yang tak pernah berhenti

Muh. Amin (99), untuk advice for my compy!

Imran Ma’mur a.k.a K’Imho (98), Mr. Wise Guy...Salutku untukmu!!

- Komunitas Ininnawa dan WWN Crew, kapan kita ke Tompo Bulu lagi?

- Blogger Makassar...untuk kesempatan mengenal kalian

- Buku2ku, Guru yang tak pernah marah...

- Kanda Muh. Hasbullah Idris, kesabaranmu menghadapi kekeraskepalaanku melebihi kemampuanku menghadapi kebatuanmu. Hehehe...terima kasih untuk precious time ever...like u said, “Jalan sungguh masih sangat terjal!”

Untuk kedua pembimbingku, tentu saja, P’Ali dan P’Samsu, semoga Allah membalas jasa Bapak berdua. Amin!!

Selamat Datang di Dunia Tanpa Subsidi!!!!

If u dont found ur name here,...

Check out my deepest heart...and u will find it there....

Wednesday, January 24, 2007

I’ll get fired soon…

Seiring berjalannya waktu akhirnya kedua murid privat saya sudah kelas tiga SMP. Saya mulai mengajar mereka sejak kelas satu hingga saat ini. Saat ini mereka mulai akan meninjau ulang apakah saya masih bisa mengajar mereka atau tidak.

Bukan karena mereka tidak menyukai saya atau saya yang sedikit menyukai mereka. Tapi karena mereka sudah kelas tiga jadi sekolah mereka mulai mengadakan pemantapan untuk ujian nasional. Tidak ada hari lagi untuk belaja di rumah. Sebenarnya pemantapannya hanya empat hari saja dalam seminggu. Cuma, mereka masih memiliki les-les lain pada hari-hari lain seperti les bahasa inggris, les piano dan berenang serta mengaji (jangan heran, sepertinya orang tua sekarang tidak puas kalau anak-anaknya hanya mengikuti satu jenis les saja). Akhirnya, sayapun rela berkorban...Huhuhu...Kok jadi dramatis sekali ya?

Orientasi saya mengajar adalah untuk mendapat uang lebih. Supaya bisa memenuhi nafsu beli buku dan makanan yang saya suka. Selain itu supaya saya juga bisa menabung untuk anak-cucu kelak (sekali lagi ini hanya orientasi).

Ayo, sekali lagi, berikan saya pekerjaan...Jangan malu-malu yaaa...

Pets and Me

Acce menghadiahi dirinya dengan seekor hamster betina. Ya ampun, geli saya. Bukan karena itu menjijikkan. Okay, sebagai mahluk yang diciptakan kurang bisa lari, saya juga diciptakan untuk tidak menyayangi binatang. Dalam artian, tidak punya niat sama sekali untuk punya hewan piaraan. Padahal sepertinya memiliki hewan piaraan merupakan latihan singkat dan terapi manjur sebelum kita “piara” anak orang.

Waktu kecil saya sempat punya pikiran untuk memelihara kucing. Karena waktu kecil dulu saya suka sekali menyisakan makanan. Nenek saya selalu marah dan mengatakan mubazir buang-buang nasi. Memelihara kucing adalah solusinya. Lihatlah, bahkan sejak kecilpun saya ingin memelihara hewan bukan untuk disayangi tapi untuk dimanfaatkan.

Keinginan kedua untuk memelihara binatang muncul setelah menonton Nemo. Saya berpikir kalau memelihara ikan tidak terlalu merepotkan. Mencoba mencari kesana kemari clown fish ternyata memang tidak ada yang menjual. Selidik punya selidik, ikan badut itu cuma bisa hidu di air asin lengkap dengan rumput-rumputnya.

So, waktu saya masih berstatus mahasiswa baru dulu, saya berbohong waktu mengatakan hewan favorit saya adalah bebek. Hal itu saya lakukan karena kondisi. Kami semua direndam di sungai, tidak terlalu dingin sih. Terus ditanya satu-satu tentang hewan kesukaan. Sayapun berpikir, pasti akan dikerjai disini. Sebelum giliran saya yang ditanya saya sudah menemukan jawaban. Hewan yang paling dekat dengan sungai tapi bukan ikan (takutnya saya malah disuruh menyelam seperti ikan: saya tidak jago berenang), sayapun menjawab bebek. Betul sekali dugaan saya, kami semua disuruh bersuara seperti hewan kesukaan kami. Hahahaha...Meranalah teman saya yang memilih kelinci sebagai hewan kesukaannya. Siapa yang pernah mendengar suara kelinci? Kecuali What’s up dock... Berbahagialah saya karena memilih bebek, cuma bersuara kwek..kwek..kwek...goyang-goyang, menari di pantai...

At least,Thanx to God... karena Acce mengurungkan niatnya memelihara bayi harimau yang dilihatnya di Animal Planet sedang bergumul dengan saudaranya yang Acce iringi dengan suara “Lucunyaaa...”.Apa yang lucu kalau anak harimau itu menjadi besar dan mencoba untuk bergumul dengan saudaramu? Harimau kan bukan kucing yang pertumbuhan badannya terhenti setelah mencapai tinggi 20cm dari tanah.

(ini fotonya acce dengan hamsternya..tidak jauh beda..hehehe)

Ada sepatu baruku, gang!

Saya punya sepatu baru. Based on my resolution for this year which is berat saya harus jadi 45 kg, terbelilah sepatu untuk dipakai Jogging tiap pagi. Dibeli pake gaji ngajar. langsung habis. Sejak dibelinya sepatu itu, saya baru menggunakannya sekali untuk lari keliling kompleks. Itupun hanya satu putaran. Matanya saya sudah berkunang-kunang. Dan nafas tidak teratur. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan (baca:Let’s Play), saya adalah salah satu mahluk ciptaan Tuhan yang susah lari. Sepertinya karena kurang latihan.

So, doakan saya ya semoga tekad saya untuk sehat bisa tercapai dengan Jogging tanpa harus merubah porsi makan. Gambatte ne’!

Tuesday, January 16, 2007

Tiga lelaki

Hari itu cuaca sangat panas walaupun diujung langit tampak awan gelap. Saya baru saja sampai diujung jalan untuk mengambil angkutan umum. Sudah hampir tengah hari memang. Keringat bercucuran di balik baju demi untuk menjemput seseorang yang pasti akan menyodorkan sebentuk rindu dengan pita merah muda di atasnya.
Mobil pertama yang kutumpangi berjalan tidak terlalu cepat. Padahal saya sudah sangat gerah. Lambat bergerak. Saya kemudian menyesal tidak membawa kendaraan sendiri saja. Ungkapan halus untuk mengatakan tidak punya.
Setelah hampir 30 menit perjalanan, akhirnya saya sampai juga di depan pintu masuk salah satu universitas terkenal di kawasan timur negara ini. Membeli minuman kotak dan iseng-iseng menanyakan koran yang terbit hari itu. Sambil menikmati air yang mengairi kerongkonganku, sayapun menanti kendaraan yang akan melanjutkan perjalananku.
Kendaraan itu tibalah. Supirnya menyuruhku naik dengan sedikit memaksa. Karena tidak ingin membuat penumpang yang lain protes dalam hati sayapun mempercpat langkah. Mengambil posisi di dekat pintu untuk menikmati angina segar. Minuman kotak akhirnya tandas sudah. Angkutan ini akan menghantar saya ke terminal di perbatasan kota. Angkutan ini sedikit-sedikit berhenti. Saya sedikit dibuat mual olehnya. Sungguh menyesal tidak membawa sesuatu yang bisa dibaca. Terkantuk-kantuklah saya di mobil.
Di jalan masuk terminal, saya melihat banyak mobil yang parker yang akn membawaku ke tujuan akhir. Dengan manisnya sang supir bertanya,
” Ada yang ke Maros?”, tidak ada penumpang yang menjawab. Saya menoleh ke kiri dan ke kanan mencari teman tetapi kemudian pupus harapan, dan mengangkat tangan. Maroslah tujuanku.
“Nanti diluar kita’ turun De’ di’?”, ucap sang supir kepadaku melalui kaca spion.
Sayapun cuma mengangguk. Terus terang saja ini pertama kalinya saya mengarungi terminal Daya menggunakan angkot. Semoga saja saya tidak kesasar. Setelah berjalan cukup lama. Saya menjadi bingung karena terlalu banyak kitaran yang tidak penting. Membuat saya berpikir berap liter bensin yang harus dihabiskan untuk berputar-putar dalam terminal ini? Apakah sebanding dengan penumpang yang naik? Ah, sudah hampir di pintu keluar tapi saya belum juga diijinkan turun oleh sang supir. Dan dia tetap mengulang kata-katanya yang tadi,
“Nanti diluar turunnya”, katanya dan saya cuma manut saja.
Tepat lepas lampu merah, membelok sekitar 10 meter angkutan itupun berhenti. Dan supirnya mempersilahkan saya turun. Saya membayar dan mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah menunjukkan jalan yang benar dan termia kasih karena tidak memanggilku dengan sebutan Bu’.
Saya kemudian berpindah angkutan lagi. Naik ke atas angkot setelah Pak Supir mengiyakan tujuan. Ternyata hanya ada saya dan seorang ibu dengan barang belanjaannya. Alamat ngetem niy...Sepertinya angkot tujuan Maros sulit sekali menarik penumpang seteah dilarang mengambil penumpang di dalam kota. Saya duduk di posisi favorit, dekat pintu. Kali ini hanya panas yang terasa karena angkutannya belum beranjak juga. Matahari semakin lucu saja. Satu penumpang naik. Dua penumpang. Tiga penumpang. Sudah lima penumpang di atas mobil plus seorang anak kecil. Akhirnya angkutan itu jalan juga. Di daerah Sudiang seorang pria naik.Sepertinya kakak dari kenalan Pak Supir. Dia duduk di sudut dalam mobil. Angkutan itupun berjalan lagi. Berhenti ketika melihat seorang pria paruh baya, dan lelaki itu menggeser kedudukanku. Panas sekali. Saya berusaha membuka jendela tapi tidak bisa. Menggunaan dua tangan tetap tidak bisa. Lelaki kenalan Pak Supir itu kemudian membantuku untuk membukakan. Berhasil! Terima kasih sekali. Dan diapun tersenyum. Akhirnya saya bisa menikmati semilir angin yang berhembus. Di angkutan ini untungnya bukan hanya saya saja yang menuju ke Bandara Hasanuddin, jadi saya tidak perlu mengalami pengalaman buruk untuk kedua kalinya. Yakni, berjalan dari jaln poros Maros-Makassar sampai ke Terminal Kedatangan.
Sampai di tujuan saya beralih ke handphone yang bergetar. Ternyaa pesawatnya tertunda dua jam. Saya berjalan menuju ke warung waralaba yang ada di bandara. Memesan makanan untuk mengganjal perut. Mulai makan dan minum. Dua orang pria tampak mengisi kursi di sebelahku. Makananku sudah habis. Betapa lamanya waktu berjalan. Bengonglah saya sendirian di tempat itu. Mataku mulai mengamati orang-orang yang ada disitu. Ada keluarga besar lengkap dengan nenek dan cucu, ada dua orang bule bagpackers, ada anak sekolahan, ada pegawai bandara dan lain-lain. Semuanya beramai-ramai dan saya hanya sendirian. Saya menyeruput minuman yang tinggal seperempat. Memaperhatikan gambar tentang sejarah restoran itu berdiri, dan terdengarlah suara dari meja sebelah,
“Mari makan,” saya sedikit terkejut dan tersenyum,
“Silahkan,” jawab saya sambil mengangkat kotak stereofoam yang telah kosong. Lelaki itupun melanjutkan makannya.
Lima belas menit lagi sebelum mendarat. Waktunya untuk meninggalkan tempat ini. Saya menghabiskan orange float saya. Berjalan keluar dengan hati riang.

Kita tidak akan pernah tahu akan bertemu siapa dalam kehidupan ini dan siapa yang membuat hidup kita akan terasa lebih mudah...(sok bijak niy..:))

Sunday, January 7, 2007

Pour Someone...

Friday I’m in Love...

I don’t care if Monday’s blue
Tuesday’s grey and Wednesday too
Thursday I don’t care about you
It’s Friday I’m in love
Monday you can fall apart
Tuesday Wednesday break my heart
Thursday doesn’t even start
It’s Friday I’m in love

Saturday wait
And Sunday always come too late
But Friday never hesitate...

I don’t care if Monday’s black
Tuesday Wednesday heart attack
Thursday never looking back
It’s Friday I’m in love

Monday you can hold your head
Tuesday Wednesday stay in bed
Or Thursday watch the walls instead
It’s Friday I’m in love

Saturday wait
And Sunday always come too late
But Friday never hesitate...

Dressed up to the eyes
It’s a wonderful surprise
To see your shoes and your spirits rise
Throwing out your frown
And just smiling at the sound
And as sleek as a shriek
Spinning round and round
Always take a big bite
It’s such a gorgeous sight
To see you eat in the middle of the night
You can never get enough
Enough of this stuff
It’s Friday
I’m in love


Pour Someone, the one that might be didn’t realize this feeling...

Family means...

Beberapa hari yang lalu seseorang bertanya kepadaku keluarga itu sebenarnya apa. Dan saya dengan entengnya menjawab seperti yang selama ini diajarkan guru-guru SD, terdiri atas ayah, ibu dan anak. Padahal yang bertanya maksudnya bukan seperti itu. Betapa melekatnya pesan itu di kepalaku.
Sebenarnya pertanyaan ini mengganggu beberapa hari ini. But finally I found the answer, keluarga itu tempat pulang. Tempat pulang setelah penat berada di dunia luar.
Selama hidupku yang hampir seperempat abad di dunia ini, setiap bepergian jauh saya terhitung jarang sekali homesick. Kenapa ya? Seperti ada keyakinan dalam diri yang mengatakan kalau saya pasti akan pulang ke rumah sejauh apapun kakiku melangkah. Akan selalu ada tempat pulang...Untuk saya, kamu, kita semua...

Pocong2...yang katanya lebih seram dari Pocong yang dilarang beredar...

Dinonton di hari Jum’at, 5 Januari 2007
Jam pertunjukan 6.30 petang
Duduk di F4, Twenty One MaRI

Rencana nonton sejak kemarin tapi gagasannya telat. Nonton kali ini disubsidi langsung sama K’Eko (terima kasih !) dan diikuti oleh Oq dan saya. Sebenarnya menunggu k’Eko yang tidak kunjung datang padahal sudah ada cuap-cuap pintu Studio 2 telah teebuka lebih menegangkan daripada melihat Pocong yang dipasang di sudut ruangan TO. Serius, soalnya saya dan Oq tidak mau menanggung malukeluar dari TO tanpa berhasil nonton karena tdak mau tekor bayar sendiri. Tapi, akhirnya K’Eko muncul juga dengan membawa Bread Talk sebagai tebusan. Yeeee, tau begitu mending kita nontonnya di TO Panakukang aja kaliii...
Dengan perasaan dagdigdug melihat penjaga tiket yang bertampang sangar dan melirik-lirik kantong Bread Talk (baca: makanan dari luar), akhirnya kami berhasil juga masuk ke dalam studio yang sudah gelap. Dan K’Eko yang memegang tiket tidak tahu lagi tempat duduknya dimana. Gimana siy???
Duduklah kami semua dengan rapi. Di layar sudah muncul wajah Revalina, Ringgo Agus Rahman dan Risty Tagor. Nilai untuk Pocong 2, 7.5 dari range 1-10. Lumayanlah. Setannya terlalu sering muncul. Walaupun ada juga yang ngagetin diiringi dengan musik menghentak yang juga ngagetin. Salut buat Risty Tagor, aktingnya keren. Dan ternyata ada sang “Cengkoknya mana” main juga disini. Beda banget aktingnya dengan yang di Mendadak Dangdut. Keren juga...Walaupun saya tidak mengerti dia muncul sebagai apa sebenarnya. Dan sampai sekarang saya masih bertanya-tanya Pocongnya itu siapa sebenarnya? Atau mungkin saya yang kurang menyimak kali. Klimaksnya kurang menghentak pula. Kecuali tampang yang ngagetin lagi sebelum creditnya muncul. Adegan lucu sepanjang film OQ yang kerjanya nutup mata dan saya yang tutup kuing. Pengalaman saya efek ngeri itu lebih karena suara daripada penampakan...
Menurut yang mnraktir, Pocong pace masih lebih ngeri setan khas Makassar Parakang atau Poppo. Memangnya pernah liat?

Saturday, December 23, 2006

No more weekend

Pagi ini saya dibangunkan oleh pesan singkat dari salah seorang teman yang mengatakan:

met weekend,cha’

Saya sempat tersenyum sendiri sambil memeluk guling kembali karena pagi ini sejuk sekali. Saya sempat lupa dengan kata ‘weekend’ itu sendiri. Sepertinya sudah hilang dari kamusku sejak enam bulan yang lalu.
Mulai bulan Juni tahun ini, hari-hari saya sama saja. Mau weekend atau bukan weekend. Sama saja. Bukan karena saya sangat sibuk di hari itu tapi justru karena setiap hari saya hanya bermalas-malasan. Saya bisa menentukan tiap hari adalah weekend karena sudah tidak tahu lagi di mana pekan berawal. Siklusnya sama saja. Saya sudah lupa hari. Yang menandakan kalau itu adalah hari sibuk adalah teriakan-teriakan di pagi hari untuk membangunkan adikku pergi ke sekolah.
Dan kemudian saya mendaulat tahun ini sebagai tahun malas-malasan pada salah satu perjalanan hidupku. Sepertinya saya sangat membenci bagaimana saya harus melawan diri saya setiap hari untuk beranjak dari tempat tidur, depan game saya, depan televisi saya dan melakukan hal-hal yang lebih penting seperti memperbaiki skripsi saya dan segera sidang.
Saya sangat ingin rutinitas seperti waktu masih sekolah atau kuliah dulu. Tidak seperti saat ini. Bangun pukul delapan pagi, sarapan, nonton televisi, mandi, nonton lagi atau baca buku, tidur siang, nonton lagi, jadi supir, main game dan kemudian tidur lagi. Setiap hari hampir seperti itu, kecuali hari senin yang harus diselingi dengan mengajar privat anak esempe yang hampir tamat.
Ayo, berikan saya pekerjaan. Pekerjaan yang menghasilkan uang tentunya. Hohohohoho...Jangan malu-malu ya?
Jika dibaca lagi kegiatanku setiap harinya enam bulan terakhir ini, tidak ada olahraga sama sekali. Badanku melar lagi. Urgh!
That’s all...yoga’s waiting...

Friday, December 8, 2006

Perempuan Menulis Perjalanan

Place : Makassar – Desa Tompo Bulu, Pangkep – Makassar
Date : 27 November 2006 – 3 Desember 2006
Starring : Fasilitator : 1. K’Puthut
2. Bang Saleh
3. Mbak Fitri
4. Pak Roem
Panitia Rumah Kamu: K’ Nyomnyom, K'Aan, K'Piyo, K'Jimpe, K'Anno, Eji, K'Yazid,Dedy,K'Mancu
Peserta:Ika,Pitto,K'ni,Rida,Fitri M,Atik,Ila,Me,K'Shanty,K'Enny,Nanny,Olha,Nini,Nahla


(sebelum hari H)
Tentu saja diawali dengan lulusnya cerpen saya untuk mengikuti program WWN ini. Sebenarnya saya nothing to lose waktu memasukkan karya sa ke Rumah Kamu, karena via email plus pemberitahuan lulusnya terlambat. Tetapi, ternyata saudara-saudara, saya lulus dan diijinkan!

Day One...Senin, 27 Nope 2006..
I am so excited! Berangakat ke Biblioholic diantar sama bapak dan mama. Tiba di sana pukul 7.30 dan kemudian berbaur dengan peserta yang lain. Semuanya belum ada yang saya kenal. Terus teman pertama namanya Hasni anak FK angk.2000. K’Enny(panggilan Hasni) ini enak sekali di ajak ngobrol. Dan kemudian saya semakin yakin that we should have something in common untuk mengawali ngobrol enak.
15 menit sebelum jam 09.00, K’Aan dan K’Nyomnyom membagikan program kit yang isinya antara lain peta lokasi desa yang akan kita tempati, flyer Rumah Kamu, pembagian homestay, dua buah cerpen dari salah dua peserta yang (sepertinya) terbaik di antara kami semua. Diiringi pemberitahuan di sana tidak ada sinnyal.
It’s time to go. Pukul 9.15 kita berangkat meninggalkan Biblioholic. Makassar panas sekali, mudah-mudahan di tempat pelatihan nanti hawanya dingin. Busnya sudah mulai berjalan. Di pertigaan mandai (Bandara Hasanuddin) ada truk ringsek tapi entah siapa lawannya. Terlihat kedua penghuni truk itu masih dalam keadaan bernyawa, meskipun yang seorang meringis kesakitan karena kakinya masih terjepit.
Sampai di Soreang kami berganti mobil yang lebih kecil karena konon kabarnya mobil besar tidak bisa naik sampai ke desa Tompo Bulu. Kami semua menggunakan tiga mobil. Satu mobil untuk mobil barang yaitu mobil pete-pete, satu mobil Daihatsu Zebra dimana saya berada dan satu mobil Suzuki APV dimana panitia dan fasilitator berada. Awalnya jalan yang dilalui datar-datar saja tapi sempat shock sesaat waktu pak supir menunjukkan desa yang akan kami datangi tepat di bawah puncak gunung Bulusaraung. Dan kemudian jalanan semakin mendaki dan mendaki dengan kemiringan mendekati 50 derajat dengan tikungan tajam. Pokoknya Camba dan Bulu Dua lewat deh...Pemandangannya indah sekali. I really need this after all the stuck things.
Pukul 11.50 kami tiba di Desa Tompo Bulu. Disambut di Balai Desa dan para orang tua angkat mulai berdatangan setelah ada pengumuman di masjid. Kamipun mulai diperkenalkan dengan orang tua masing-masing. Ternyata tidak semua orang tua angkat dapat berbicara bahasa Indonesia. Nama orang tua saya Dg.Paranna tapi yang menjemput saya kemarin adalah nyonyanya.
Seperti kebanyakan rumah yang ada diTompo Bulu, rumah saya adalah jenis rumah panggung. Sangat asri. Dan dari balkon rumah saya dapat melihat puncak Bulusaraung. Di rumah saya ada pasangan muda. Anak dari orang tua angkat saya. Cucu mereka masih berusia 40 hari. Laki-laki, namanya Fauzi Azhari. Sewaktu saya sampai banyak orang yang mulai berdatangan yan merupakan keluarga dari orang tua angkat saya. Saya menyesal sekali karena hanya sedikit membawa camilan.
Setelah makan siang, jam dua, saya menuju ke balai desa. Menurut jadwal yang dibagikan acara yang akan digelar adalah kontrak belajar. Diawali dengan perkenalan. And then I ruining myself to not speak well. I always did. Kagok! Saya itu tipe orang yang tidak terlalu bisa berbicara di depan umum, jadi perkenalannya kacau. Kabut turun menutupi puncak Bulusaraung. Di sesi ini juga diadakan pembagian tugas piket untuk membersihkan, menyiapkan permainan dan memanggil peserta yang terlmbat.
Jam delapan malam saya sudah mulai mengantuk. Mungkin karena kelelahan. Hujan deras dan cuaca dingin sekali. Actually, I’m not feel comfortable. Soalnya kamar di samping kiri-kanan saya adalah pasangan suami istri yang masih dalam usia produktif. Tempat tidur saya ada kelambunya. Dan saya takut sekali tempat tidur itu rubuh karena menampung badan saya yang berat.

Day Two.... Me against the cold...
Tadi malam dingin sekali. Saya bangun pukul 5 subuh. Airnya dingin sekali. Bingung waktu mau mandi. Kamar mandinya bolong-bolong. Belum lagi digonggongi anjing. Sempat blank sesaat karena tidak tahu mau gimana. Takut kalau ada yang intip. Pikir,pikir,pikir, akhirnya sarungnya basah juga. Serasa gadis desa. Di desa ini penduduknya sudah buang air dengan menggunakan jamban, walaupun di hari pertama rutinitas pagi itu belum berjalan dengan seksama.
Sarapan pagi itu adalah burung. Seumur-umur saya tidak pernah makan burung. Waktu saya tanya ibu saya jenis burung apa itu, beliau hanya bilang,”Burung itu yang biasa terbang-terbang”..Ya, iyalah semua burung terbang..
Di hari kedua ini saya mengira diri saya terlambat karena sudah jam 8 lewat. Ternyata saya yang datang terlalu cepat. Acaranya mulai jam sembilan. Untung K’Nyomnyom sudah datang. Jadi kita membersihkan balai desa dulu sebelum materi.
Materi pertama adalah pembahasan tenatang karya yang baik, dibawakan oleh K’Puthut. Serius nih, ini kakak adalah penulis yang sudah menelurkan enam buah buku tapi belum ada satupun karyanya yang saya sudah baca bahkan yang muat di Kompas sehari sebelum kami berangkat. Maafkan aku. Kurang baca memang. Ciri-cirinya berkacamata, berkulit bersih, tinggi usianya belum tiga puluh. K’Puthut menyinggung tentang dunia penerbitan di Indonesia dan dunia penulisan yang lain kaitannya dengan pembaca.
Materi selanjutnya diambil alih oleh Bang Saleh. Bang Saleh ini perawakannya tinggi, rambutnya gondrong, kulitnya sawo matang, ada darah pakistannya, usia hampir 50 tahun dan kalau menatap dalam sekali. Bang Saleh membahas tentang HAM. Dia membagikan salah satu bagian dari karya Les Miserable untuk dijadikan bahan diskusi. Setidaknya pada materi ini pengetahuan saya bertambah mengenai HAM, hukum dan negara. Tetapi bukan berarti saya berhenti beajar lho.
Kemudian hujan turun deras sekali. Sangat deras. Materi Perempuan dibawakan oleh Mba’ Fitri. Mba’ Fitri ini seorang psikolog. Tapi beliau tidak membuka tempat praktek. Kliennya kebanyakan ada di pasar tradisional, terminal penumpang kelas ekonomi dan di lokalisasi pelacuran. Mba’ Fitri sudah menikah. Orangnya putih dan tinggi. Suka sekali ketawa. Apalagi sudah muncul Nanny yang selalu saja membuat orang ketawa karena keluguannya. Materi Mba’Fitri dibuka dengan cerita salah seorang kliennya yang bernama Mak Ndut yang memiliki masalah yang sangat kompleks dalam kehidupannya. Mulai dari tanahnya yang digusur oleh pemerintah hingga akhirnya anak pertamanya yang meninggal karena aborsi. Pokoknya complicated banget deh...
Hari ini sudah ada acara malam. Katanya mau dipakai untuk bikin tugas dari Mba’Fitri. Ceritanya, kita disuruh membuat drama tentang perempuan. Saya sekelompok dengan Nanny, K’Shanty, Ila dan Pitto. Dan kebagian tugas untuk membuat drama tentang perempuan dari lahir hingga usia 18 tahun. Kelompok lain untuk usia 18-50 tahun dan 50 – akhir hayat. Sempat blank juga awalnya tapi kemudian datang K’Aan membantu kami. Pulangnya saya diantar Dedy soalnya gelap sekali dan banyak anjing. Di tengah jalan ketemu K’Aan dan K’Jimpe.


Day Three...Hidup Perempuan!!!!
Sarapan hari ini, indomie+telur rebus. Sudah itu jalan-jalan keliling kampung. Liat-liat. Pergi cari sinyal di kuburan. TApi tidak dapat-dapat. Kuburannya cantik sekali. Betul-betul Rest in Peace kata Eji. Saya menyesal sekali tidak bawa digicam.Huhuhuh...Akhirnya saya berani gendong Fauzi.
Di balai desa, sudah menunggu panitia. Sebelum materi Mba’Fitri dimulai, K’Nyom-nyom najak kita curhat tentang keluarga kita di sini. Keluarlah semua, ada yang terlalu ributlah, tidak mau makanlah, tidak bisa mandilah dan lain-lain.
Drama begin.Kacau pokoknya. Tapi Alhamdulillah, lumayan sukses ji. Ternyata permasalahan perempuan sangat kompleks.
Makan siang ada Pallumara.Hooray!!!
Sepertinya ini materi terakhir sebelum masuk di teknik menulis kreatif. Dibawakan oleh Pak Roem Topatimasang. Kata Pitto mirip Pak Bondan yang di wisata kuliner trans tv. Sudah cukup uzur kelihatannya tapi masih kuat. Bapak ini lucu pake all for all bawa materi. Pak Roem membahas tentang analisis social dan interaksi social. Kita kemudian menonton esai visual (esai yang berbentuk foto-foto) tentang penjual jamu yang ada di Paotere. Terus disuruh mengamati apa yang sebenarnya terjadi di esai itu. Fenomena sosial apa. Kita semua kemudian diberi tugas, setelah makan siang diperiksa, untuk mengamati apa yang ada di kampung itu. Yah, seperti biasa saya cuma bisa diam saja. Kurang sensitifka kayanya dengan lingkunganku.
I made a misteke today. Selesai materinya Pak Roem, saya plus Fitri M, Atiek, Olha dan Ika pergi cari sinyal yang tidak kutemukan di kuburan tadi pagi. Jauh sekali, sekitar 500 meter dari pusat desa. Hapeku tidak dapat sinyal. Nokia jelek sekali ya kalaua di atas gununf. Jadi nelponnya pake hapenya Fitri M yang Motorola. Tiga orang yang saya hubungi tiga-tiganya tidak ngangkat. BT!!Jadi,cuma sms saja. Pulang ke balai desa sudah maghrib, jalannya mendaki, untung ada anjing yang ikutin jadi kita semnagat jalannya. Hihihihi....Ternyata saudara-saudara, saya dicariin ibu saya kemana-mana. Untungnya nda diumumkan di masjid. Perasaanku tidak enak. Ternyata di desa ini kalau sudah maghrib harus pulang. K’Enny, Eji, Pitto, K’Jimpe dan K’Nyomnyom ikutan negur.
Ada acara nonton bareng esai visual tentang Desa Tompo Bulu, dan perempuan-perempuan yang ada di Sinjai yang pandai besi. Setelah itu ada diskusi sedikit tentang feminisme. Tambah pusing. Dapat tugas dari K’Puthut. Dikumpul besok..

Day 4..Hahahahaha too much!!
Seperti biasa, masih banyak saja teman-teman yang datang terlambat. Padahal ini sudah hari keempat lho...Materi hari ini sudah masuk teknik menulis. Artinya sampai hari sabtu nanti kita bergelut dengan K’Puthut.
Pemanasannya, membuat kalimat yang kemudian ditukarkan dengan teman di samping kiri, begitu seterusnya hingga kertas yang pertama kita tulis sampai ke kita. Seru, apalagi semua karangan sempat kacau karena ada Pito yang tulis tentang bisul. Untungnya karya teman-teman masih dapat diselamatkan, begotu juga karyaku. Kemudian dilanjutkan dengan menulis apa saja yang ngin kita ketahui tentang dunia penlisan. Banyak ternyata. Sudah itu kita mulai membahas tugas yang diberikan.
Setelah makan siang, ada game seru kita disuruh membuat karangan dari potongan koran. Terakhir kita disuruh menuliskan paragraph pembuka dari novel yang kita bawa dari Makassar. Tugas hari ini membuat cerita tentang yang dketahui dan yang tidak diketahui.
Makan malamnya sayur labu, manis labunya.
Acara malam diadakan karena ada yang tidak bisa mengerjakan tugas di rumah. Tetapi ternyata sesampainya di balai desa kebanyakan dari kita bermain teka-teki dan cerita-cerita lucu.Sampai sakit tulang pipiku karena ketawa. K’Puthut, Bang Saleh, Dedy, K’Aan, K’Jimpe dan sebagian teman-teman peserta saling melemparkan teka-teki. Nanny dan K’Puthut lucu sekali. Acara malam kali ini minus K’Anno, K’Enny, Mba’Fitri dan Ika.

Day 5...True to your heart..
Hari ini, hari Jum’at. Pendek.Tapi diskusi tetap panjang. Tetap K’Puthut dong yang bawa materi. Ternyata K’Puthut ini kuliah di Filsafat UGM. Wah, pantesan isi kepalaku sempat terbongkar. Pemanasannya membuat cerita dari 10 kata kerja dan 10 kata benda yang diajukan tiap-tiap peserta. Astaga, punyaku kacau sekali. Untung tidak dibacakan. Sempat juga dicalla K’Puthut waktu disuruh membuat dialog. Katanya punyaku kayak telenovela. Parah! Tapi harus kuat mental, karena bukan hanya saya sendiri yang dikasih begitu. Hari ini cukup serius pembahasannya. Terus ada kabar bagus dari Ininnawa, karya kita akan diterbitkan dalam bentuk kumpulan cerpen. Horee!!First step..
Tadi saya belikan ibu, mie instant, susu dan kecap.
Acara nobar malam ini adalah Mulan. Nostalgia lagi saya. Hihihi..Banyak anak-anak desa yang nonton. Pulangnya agak telat, karena printer ngadat. So, saya cerita-cerita tentang film-film Indonesia sama K’Jimpe, K’Mancu Bang Saleh, K’Aan dan K’Puthut. Pulangnya sudah dinanti anjing di depan rumah.

Day 6....Last day
Masih ingat kan cerpen yang dibagikan bersamaan dengan program kit? Materi terakhir hari ini tentang apresiasi karya sastra, dimana karya K’Shaty yang berjudul Kolam di Tepi Hutan yang dibedah. Cukup bingung juga. Dan berakhirlah materi teknik penulisan. Tepuk tangan...Tidak terasa.
Ternyata ada acara jalan-jalan ke Gunung Batu Putih. Sehingga teman-teman pada saat Mba’Fitri membawakan materi lagi kurang memustkan perhatian. Setelah materi Mba’Fitri beramai-ramailah kita menuju Gunung Batu Putih walaupun suasana sudah mulai mendung. K’Aan, Eji, K’Jimpe, K’Mancu, Dedy, K’Puthut dan Anno tidak ikut karena mereka menuju ke Bulusaraung.
Sudah setengah perjalanan, jalan mulai mendaki dan hujanpun mulai turun. Seperti biasa saya harus berhenti mengatur nafas. Saya merasa tidak safety saja untuk perjalanan kali ini, hanya menggunakan sandal jepit licin tanpa raincoat pula. Basahlah saya, dank abut mulai turun. Hujan mulai lebat. Pouring. Saya ditemani sama Mba’Fitri. Cerita-cerita dan memutuskan untuk turun. Keputusan yang sama diambil juga oleh Rida, Nyomnyom K’Yazid, K’Piyo, Nini, Ika dan Nahla.
Pulangnya langsung mandi. Ternyata K’Jimpe dan Eji juga gak lanjut sampai ke puncak Bulusaraung, entah mengapa.
Ibu saya sudah menyiapka buah tangan yang akan saya bawa pulang besok. Ada kue kaktus,beras, pisang, sawi dan tomat. 1 dus besar. Seperti pulang KKN saja. Ibu baik sekali. Padahal saya tidak memberikan beliau apa-apa.
Acara malam ada kmpul-kumpul dengan Pak Desa. Dilanjutkan dengan nobar The Grave of Freflies. Sedih filmnya

Day 7....Pulang!
Jam 8 kita berkumpul di balai desa. Sudah banyak orang dengan dus masing-masing. Ada yang tiga dusnya. Perpisahan sangat menyedihkan. Huhuhu...Orang-orang desa juga sedih. Ibu saya tidak berekspresi. Akhirnya kami semua bisa berfoto dengan melihat ke kamera, yang selama ini kalau kita sadar kamera selalu dimarahi.


Kami pulang membawa sebentuk cerita yang tak ada habisnya. Terima kasih untuk pihak Rumah Kamu yang sudah memberikan saya kesempatan untuk mengecap pengalaman yang sagat menyenangkan. Dan juga kepada teman-teman yang membuat hari-hari di Tompo Bulu bak pelangi tanpa kabut. Juga para pemateri yang telah expanding my horizon about this world....